Home » Uncategorized » Wisata Solo

Wisata Solo

Gambar

Gambar

Wisata alam Solo

Kuliner Pengobat Kepenatan

Yogyakarta adalah kota kelahiran saya, dan saya sangat mencintainya. Siapa yang ga kangen ke Jogja, dan di sebelah timur Kota Jogja, ada sebuah kota yang tidak kalah menariknya yaitu Kota Solo dan saya sering menikmati liburan di sana. Terlebih jarak yang ditempuh tidak terlalu lama dan mudahnya transportasi. Mengendarai sepeda motor cukup 3liter bensin pp, atau naek kereta Pramek/Madiun Jaya/Sriwedari.

Hari yang dinanti untuk berlibur di Kota Solo terasa sangat lama. Tidak sabar. Selama ini saya sering mengunjungi pasar pagi di Lapangan Manahan atau sekadar belanja batik di PGS atau BTC. Kalo ini saya ingin menikmati alam. Berdasarkan berbagai informasi di bagian tepi Kota Solo menawarkan wisata alam.  Keindahan yang ditawarkan alamnya sangat menawan. Setelah mencari beberapa informasi dari berbagai sumber, rute perjalanan pun sudah tertata rapi dan saya sudah tidak sabar berlibur. Di stasiun lempuyangan kala itu masih beroperasi kereta Pramex, jadi  biaya transport terbilang terjangkau yaitu 10rb, beda dengan sekarang mau tidak mau menuju ke Kota Solo memakai Madiun Jaya atau Sriwedari. Dapat tempat duduk atau pun tidak mendapat tempat duduk tiket yang dikenakan dipukul rata 20rb. Tepat pukul  7 pagi kereta tiba dan  segera meluncur menuju ke Stasiun Balapan, Solo. Di sana teman saya akan menjemput, ya, teman saya warga asli Solo. Semburat pagi masih memancarkan keindahannya, cahaya keemasan bertengger di ufuk sebelah timur. Andai ada pintu kemana saja Doraemon tentu akan mempercepat proses, tetapi deru suara kereta yang mengalun menciptakan irama lain yang akan tetap tinggal di hati. Sebuah proses perjalanan.

Tempat Sarapan Unik di Waduk Cengklik

Saya dan teman saya ingin segera  menikmati sarapan segelas kopi dan sepincuk pecel rambak asli Solo yang ada di Waduk Cengklik, dari Mojosongo agak ke arah Boyolali, tidak terlalu jauh dari Balapan. Mungkin sekitar 20menitan waktu yang diperlukan. Akhirnya, tiba dan pemandangan yang ditawarkan sangat menentramkan hati, hamparan air luas dan tanaman rindang. Duduk berhadapan bersama teman di bangku di tepi waduk di bawah rindangnya pohon beringin. Tidak berapa lama pesanan kami tiba, segelas kopi, teh nasgitel dan dua pincuk pecel. Tahu goreng cocol sambel kecap dan singkong goreng  menambah kenikmatan. Disekitar saya banyak juga pengunjung  yang mampir ke waduk, ada yang sambil gowes bersama komunitasnya atau sekedar ngopi atau keteh poci di pagi hari bersama sahabat. Harga makanannya tidak sebanding dengan harga pemandangan dan harga suasana alam yang ditawarkan. Deru air, berpadu dengan air dan suara burung-burung yang terbang bebas di sekitar waduk. Nikmat. Kala itu harga sepiring tahu goreng cocol @5rb, segelas kopi hitam dengan gula baru @3rb dan sepincuk pecel @3rb.  Sangat murah meriah dan berkelas. Dikota banyak tempat makan atau cafe yang meniru suasana alam, dengan gemericik air terjun buatan dan pepohonan dari plastik atau asli yang ditata dalam ruang. Namun, tetap tidak dapat dibandingkan dengan nuansa alam yang asli. Berani dibandingkan, mungkin kala hujan tiba saya tidak akan dapat menikmati secara langsung sajian di tepi waduk. Namun, warung-warung disepanjang waduk siap menampung pengunjung dengan pemandangan yang berbeda kala hujan. Rintikan air hujan yang menghunjam waduk memberi warna tersendiri. Indah.

Gambar

 

Berolahraga sambil menikmati alam di Tawangmangu

Usai menikmati sarapan dan kenyang, saya meluncur ke Tawangmangu, Karanganyar, Jateng. Dari Kota Solo, jarak tempuh kira-kira 1jam perjalan. Solo ke Palur dan lurus ke kanan menyeberang rel kereta api dan lurus. Cukup mengikuti jalan. Plang petunjuk arah menuju Tawangmangu banyak kita jumpai. Mungkin pantat sedikit pegal atau matirasa tapi sepadan dengan apa yang akan saya nikmati. Pengen berenang di kolam renang Tawangmangu dan menikmati sate kelinci. Mengendarai sepeda motor cukup menyita waktu dan energi tapi tidak masalah, lagi-lagi mata saya dimanjakan dengan pemandangan yang cukup menakjubkan. Terbayang segarnya udara dan air kolam. Sepadan dengan lamanya perjalanan menuju ke sana, tiba di depan pintu gerbang kami membayar Rp.6rb rupiah. Turunan tangga yang tidak terhitung jumlahnya cukup menciutkan hati, terlebih badan asli saya yang subur. Teman saya meyakinkan saya bahwa pemandangan di bawah sangat menakjubkan. Grojogan sewu atau air terjunnya luarbiasa. Terlebih kala itu bukan musim kering jadi air melimpah turun ke bawah. Cukup ngos-ngosan ternyata menapaki turunan, dan memang menakjubkan, lengkungan cahaya pelangi terbentuk di tengah air terjun, serpihan air yang berpadu dengan cahaya matahari siang itu menciptakan nuansa. Indah. Berlama-lama saya dan teman saya menikmatinya. Tidak terasa wajah, rambut dan baju basah oleh percikan air terjun. Segar terasa, setelah menempuh perjalanan panjang dan panas. Saatnya menuju kolam renang dan berendam. Nyesss, air dingin pegunungan menyentuh kulit. Mendinginkan kepala dan hati. Bercanda tawa bersama teman melepas segala beban pekerjaan yang selama ini kita jalani. Tidak terasa rasa lapar menghampiri, alarm alami menandakan waktunya untuk beranjak dari kolam renang, dan memulai perjalanan menapaki tangga yang menjulang tinggi. Selangkah demi selangkah kali ini, saat kaki terasa lelah dan napas sudah tidak mampu melanjutkan, mampir ke tempat duduk yang sudah disediakan disepanjang tangga. Begitu mendekati pintu keluar terhampar tulisan dipapan, “Selamat Anda telah turun dan menaiki 1.250 anak tangga. Semoga tambah sehat dan sukses.” Wow 1.250 anak tangga sudah saya lewati, luarbiasa. Pantas rasanya lapar semakin menghujam dan kaki terasa makin berat untuk melangkah. Di atas, tempat makan menawarkan banyak pilihan dan pilihan saya jatuh pada sate kelinci. Makanan khas Tawangmangu. Seporsi sate kelinci waktu itu @10rb sama nasi dan teh panas. Melegakan jiwa dan raga. Usai olahraga dan mendapat obat yang pas. Kepenatan sirna seketika. Teh nasgitel menambah kenikmatan.  

GambarGambar

Gambar

Keindahan Abadi di Kebun Teh Kemuning

Menuju ke Kebun Teh Kemuning berarti berbalik arah, tidak begitu jauh dari Tawangmangu. Hamparan kebun teh yang menghijau luas membentang. Seperti bukit-bukit Teletabis. Motor yang kami naiki berderit seakan menjerit melihat tanjakan yang terlihat di depan kami. Tujuan kami tentu saja tanjakan tertinggi dan akan mengabadikan gambar tersebut. Luarbiasa indah. Perjalanan jauh yang saya tempuh sepadan dengan hasilnya, mata saya dimanjakan dengan hijaunya kebun teh. Alami dan segar udara di sana. Tidak berlama-lama saya berpose di tengah kebun teh dan diatas punjak tanjakan. Puas dengan pemandangan dan suasana kebun, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Solo dan berhenti sejenak di Taman Bale Kambang. Taman Murah Meriah untuk Keluarga. Melepas lelah perjalanan sebelum saya beranjak ke stasiun Balapan dan pulang ke Jogja. (ALL Foto adalah dokumen pribadi penulis)

Gambar

Gambar

Gambar

Advertisements

4 Comments

  1. wihhh udah pemndngannya yang indah, makanannya juga murah-murah banget ya..
    beda bsnget sama tempat wisata lainnya..
    makasih teelah berbagi pengalaman ya 😉

  2. itu kolam renangnya privat gan?
    terimakaish 😉

    • pawulan says:

      bukan kolam renang privat, umum kok. bisa dipakai siapa aja. cuma klo anak-anak harus dijaga bener. soalnya sekitar 1meter kedalamannya.
      assiiik lhooo… perjuangan menuju ke kolam renangnya mantap.. 250 anak tangga… harus ke sana gan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: